Health

Kelompok Rentan harus Sehat dan tanpa Rokok

Seperti yang kita ketahui, bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang suka merokok. Tak sedikit mereka yang berpenghasilan rendah pun lebih memilih untuk membeli rokok dibandingkan membeli makanan yang lebih baik untuk keluarganya.

Saya termasuk orang yang sedari kecil sudah akrab dengan lingkungan penuh asap rokok. Walau seringnya terganggu, namun mau bagaimana lagi? Karena rokok merupakan candu bagi penikmatnya, dan saya tahu bahwa tidak mudah untuk meminta para perokok agar berhenti mengisapnya.

Terkadang saya membiarkan para orang dewasa merokok karena yakin mereka sudah tahu sendiri apa akibat yang akan ditanggungnya dikemudian hari dan menikmati asapnya di tempat yang semestinya. Namun saya masih susah terima jika anak-anak usia sekolah juga sangat akrab dengan rokok.

Dahulu di beberapa tempat saya melihat anak SMA yang menikmatinya, lalu setelah itu saya lihat anak SMP. Tak menyangka bahwa saat ini anak SD pun banyak yang sudah mengisap rokok bersama teman-temannya. Miris sekali.

Hal ini terjadi karena harga satu bungkus rokok di Indonesia sangatlah terjangkau dibanding dengan Negara lain. Selain itu, rokok di Indonesia juga bisa dibeli secara ketengan, anak-anak sekolah tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk dapat bisa menikmatinya. Saya juga heran, kenapa rokok bisa diperjual-belikan kepada anak di bawah umur.

Saya senang sekali saat mengetahui ada Talkshow Ruang Publik KBR serial #RokokHarusMahal yang bertemakan “Jauhkan Kelompok Rentan dari Rokok”.

Di talkshow ini ada dua narasumber yang siap berbagi pengetahuannya dengan kita semua, yaitu :

1. Dr. Abdillah Ahsan, Wakil kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI.

2. Dr Arum Atmawikarta, MPH,
Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Bappenas.

Apa sih kelompok rentan itu?

Kalau dari aspek kesehatan, yang disebut rentan adalah bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, dan yang menderita penyakit. Namun dalam kelompok rentan yang paling luas lagi adalah kelompok yang miskin, yang pendapatannya pada kuintil 1 dan kuintil 2.

Jumlahnya pada hasil survei BPS yang baru saja diumumkan itu sekitar 9,7 %, itulah kelompok rentan yang perlu kita lindungi. Juga kelompok marginal lain yaitu yang tinggal di daerah-daerah sulit dan terpencil.

Kenapa harus dijauhkan dari rokok?

Pertama bahwa data BPS itu secara konsisten menunjukan ternyata pengeluaran dari kelompok penduduk miskin untuk rokok itu besar sekali. Jadi jika keluarga itu dikategorikan miskin maka dia mengeluarkan uang yang banyak sekali untuk membeli rokoknya. Hal ini konsisten dari sejak tahun 2004, sampai yang terbaru tahun 2018.

Yang paling mengejutkan, keluarga miskin mengeluarkan uang banyak sekali setelah beras.

Padahal jika memang mereka tidak mampu, lebih baik setelah belanja beras mereka membeli telur, makanan yang bergizi lain supaya keluarganya sehat, dan menabung untuk biaya pendidikan. Daripada harus dibakar dalam bentuk rokok.

Apakah masyarakat tahu bagaimana pentingnya pengendalian konsumsi rokok?

Sebenarnya masyarakat sudah tahu bahwa merokok itu berbahaya. Namun penjelasan yang diberikan oleh pemerintah kepada warganya tentang bahaya merokok dan sebagainya masih kalah jika dibandingkan dengan iklan-iklan yang mendorong masyarakat termasuk anak-anak untuk mengonsumsi rokok.

Apalagi di televisi, iklan rokok yang ditayangkan sangatlah halus. Hampir semua digambarkan bahwa perokok itu adalah orang-orang yang memiliki energi kuat, aktif, dan juga sukses.

Ada solusi untuk menekan jumlah perokok?

Karena harga rokok di Indonesia sangat murah dibandingkan dengan Negara lain, kita bisa mengikuti cara mereka dengan meningkatkan 10% dari harga rokok itu dan akan menekan jumlah perokok sekitar 16%, terutama pada penduduk miskin, ujar Pak Arum.

Tapi mungkin sebenarnya kalau di Indonesia harus penuh kesabaran. Dulu kan sudah ada rame-rame bahwa ada kajian berbagai pusat kebijakan, harga rokok itu harus dinaikan sampai 50 ribu, tapi kan pelaksanaannya kenaikan harga tidak sampai 50 ribu. Maka kita harus berjuang terus, lanjutnya.

Nah walaupun pasangan dan keluarga saya banyak yang merokok, namun saya setuju sekali kalau harga rokok dinaikan. Tujuannya supaya kelompok rentan itu tadi menjadi lebih sehat dengan makanan bergizi dan memiliki tabungan pendidikan untuk anak-anaknya kelak.

Selain itu jika kepala keluarga ataupun keluarga dekat tidak merokok, saya yakin kalau anak-anak tidak akan tertarik untuk mencobanya walau misalnya teman-teman mereka mengajak.

Yuk mari kita terlibat aktif dalam kampanye pengendalian tembakau ini dengan menyerukan :

#RokokHarusMahal

#Rokok70Ribu

#RokokMemiskinkan

Mari kita bantu keluarga miskin dan anak-anak untuk berhenti membeli rokok dengan cara menandatangani petisi #RokokHarusMahal di Change.org .

Advertisements

9 thoughts on “Kelompok Rentan harus Sehat dan tanpa Rokok

  1. Harus mahal banget. Ada yg udah nikah, pengen bisa berhenti tapi terasa susah. Kasihan keluarganya.
    Dan bener tuh, ada anak SD yg udah nikmati rokok, apaan coba. Apa saking murahnya? ngeri euy

    1. Nah anak2 yang ngerokok itu karena :
      1. Ngikutin orang dewasa biar keren
      2. Harga jualnya murah (eceran)
      3. Di desa2, banyak yg membiarkan dan membagi rokoknya dengan si anak.

      Sedih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s