Krucils

Anak Perempuan dan Ayunan

“Jari-jari mungil itu berada di kepalanya sendiri. Menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Saat ia melirik ke arah jari mungil itu, sang kakak terkejut dan menangis panik. Ia melihat darah. Ya, ada darah segar yang mengalir di jemari mungil anak perempuan itu.

Sang kakak melepaskan pelukannya, menangis histeris dan berlari tanpa arah. Dia terlalu panik dan tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak sanggup melihat adiknya berdarah.”

**

Semua itu bermula pada siang hari. Saat pulang sekolah, anak perempuan kecil ini sedang bermain ayunan bersama kakak kelasnya. Dia juga tersenyum manis saat mendengarkan cerita dan guyonan-guyonan dari kakak kelasnya.
Semua terasa ceria dan baik-baik saja, sampai pada saat terdengar tangisan histeris dari anak perempuan itu. Dia sedang bersusah payah menahan rasa sakit dan berjuang untuk memberhentikan ayunan yang sedang mengayun dengan cepat ke arah kepalanya.

Saat kakak laki-lakinya datang dan melihat, ia segera bergegas. Saat itu, adiknya sedang menahan ayunan yang dengan kencang mengarah ke kepalanya untuk kedua kalinya.

Lalu dipeluklah adiknya yang menangis karena kaget, dan rasa sakit yang terasa hebat di kepalanya.

**

Mamanya menenangkan sang kakak, dengan memberitahukan bahwa itu hanya luka di tangan adiknya. Walaupun dalam hati panik, tapi mama berusaha tenang, sambil memeriksa kepala anak perempuannya. Sesuai dugaan, ternyata darah berasal dari kepala sang anak.

Saat mengetahui hal itu, kakak pertamanya itu semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Dia menangis tidak karuan, sementara adiknya mulai tenang. Berusaha menenangkan kakaknya dengan tatapan mata, yang seolah mengatakan “Aku nggak apa-apa, mas.”

Sang mama segera membersihkan darah dan mengecek lukanya. Memberikan pertolongan pertama kepada sang anak, dibantu oleh guru dan ibu pengurus sekolah, yang masih ada di sekolah.

**

Saat perjalanan pulang, kakak laki-lakinya selalu melihat keadaan adiknya. Memastikan bahwa ia tidak apa-apa. Jangan sampai adiknya terlihat lemas dan langsung tidur, begitu kalimat yang dikatakan sang anak sulung kepada mamanya. Ya, kakak pertamanya itu memiliki trauma yang besar terhadap adiknya. Dia mengingat jelas hal yang pernah terjadi kepada adiknya dulu, saat sang adik berusia belum genap dua tahun.

 
Beruntung, sesampainya di rumah, anak perempuan ini mau melakukan aktivitas seperti biasanya, tidak lemas dan tidak ada hal yang harus dicurigai. Namun, tetap dalam pantauan. Just in case.

 
Sudah tiga hari sejak kejadian itu. Anak perempuan itu bisa kembali ceria dan sudah melupakan rasa sakit yang membuat kepalanya sobek. Anak itu selalu genit, bercanda heboh, berlompat-lompatan, dan makan dengan lahap.

*****

 

Semoga, bekas luka di kepalamu cepat hilang ya, anak wedhok kesayangan Mama. Kamu boleh main di rumah dulu sama Mama sampai bosan.

Sampai kamu tidak takut dengan sekolahan lagi. 😘

 

Advertisements

8 thoughts on “Anak Perempuan dan Ayunan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s