DailyLife

Pembangunan Ekonomi Tiga Pilar dalam rangka Akselerasi Ekonomi dan Memutus Rantai Kesenjangan Sosial

Pemerintah telah memperbaiki kebijakan pembangunan yang peduli kepada penduduk miskin, pertumbuhan dan kesempatan kerja ( pro poor, pro growth dan pro job ) serta meningkatkan koordinasi penanggulangan kemiskinan secara nasional berjalan lebih efektif dan efisien. Untuk menuju sasaran jangka panjang dalam membangun, pembangunan nasional Indonesia perlu mem-prioritaskan pada upaya mencapai kedaulatan pangan, kecakupan energi dan pengelolaan sumber daya maritim dan kelautan.

Seiring dengan itu, pembangunan lima tahun kedepan juga harus makin mengarah kepada kondisi peningkatan kesejahteraan berkelanjutan, dan postur perekonomian makin mencerminkan pertumbuhan yang berkualitas, yakni bersifat inklusif, berbasis luas, bergerak menuju keseimbangan antar sektor ekonomi dan antar wilayah. ( RPJMN Nasional Buku I : 12)

 

Jika kita amati pada era Pemerintahan Joko Widodo, pembangunan merata difokuskan untuk menurunkan tingkat kesenjangan yang mana selama ini selalu menjadi permasalahan yang tak pernah terselesaikan. Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama seperti : Pembangunan Jalan Tol, Trans Papua, Pembangunan Gedung Lintas Batas, Embung/ Waduk, Pelabuhan, Bandara dan Tol Laut.

 

Menuju Pertumbuhan Ekonomi.

Jalan tol dibangun untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan terhambatnya rantai distribusi barang, diharapkan dengan adanya pembangunan jalan tol mampu mengatasi masalah distribusi tersebut yang selama ini menghambat. Isu bongkar muat barang di pelabuhan ( dweeling time ) sempat menjadi isu panas, mengingat beberapa waktu yang lalu dweeling time di Indonesia memakan waktu 6-7 hari.

Faktanya adalah saat ini angka tersebut dapat ditekan dengan waktu proses separuhnya. Infrastruktur pelabuhan dibangun, regulasi terkait kemaritiman dibangun, serta proses birokrasi yang cepat diharapkan mampu memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

 

Pemerintah akan Mempercepat Laju Penurunan Ketimpangan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan untuk mempercepat laju penurunan ketimpangan antara lain dilakukan dengan cara menjalankan program-program yang fokus pada 40 persen penduduk termiskin.

Menurut Bambang Brodjonegoro, penurunan ketimpangan yang terjadi pada tahun 2016, lebih banyak karena faktor perbaikan kelompok 40 persen penduduk kelas menengah. Jika 40 persen penduduk dengan perekonomian terendah berhasil di angkat, ketimpangan akan berkurang.

Tahun 2017 ini, Pemerintah mengalokasikan bantuan spesifik untuk 40 persen penduduk termiskin sebesar Rp124,5 triliun. Bantuan itu diwujudkan dalam enam program. Pertama, beras untuk rakyat miskin senilai Rp22 triliun untuk 15,5 juta rumah tangga sasaran. Kedua, program Jaminan Kesehatan Nasional sebesar Rp21 triliun untuk 94,4 juta jiwa. Ketiga, bantuan pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar senilai Rp8 triliun untuk 19,7 juta siswa. Keempat, program Keluarga Harapan senilai Rp11 triliun untuk 6 juta rumah tangga sasaran. Program kelima adalah subsidi listrik Rp40,5 triliun untuk sekitar 23 juta rumah tangga sasaran dan yang keenam berupa subsidi elpiji 3 kilogram senilai Rp22 triliun untuk sekitar 28 juta rumah tangga sasaran.

Rencananya untuk tahun depan, anggaran untuk ke-enam program itu akan ditingkatkan. Alokasinya menjadi Rp160 triliun sampai Rp200 triliun.

 

Jurus Tiga Pilar Joko Widodo.

Melalui Kementerian Koordinator Perekonomian, Presiden Joko Widodo memberikan titah pembangunan ekonomi dengan kebijakan tiga pilar yakni meliputi: Reformasi di bidang agraria, perluasan akses dan peningkatan sumber daya manusia. Joko Widodo mengatakan, semangat reformasi agraria adalah terwujudnya keadilan dalam penguasaan tanah, kepemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, wilayah, dan sumber daya alam. β€œWujudkan kebijakan peta tunggal (one map policy). Lakukan sinkronisasi sistem hukum dan semua peraturan sehingga tidak menimbulkan dualisme, tidak menimbulkan multitafsir, dan mengakibatkan sengketa agraria,” tegas Presiden di Kantornya.

Presiden Joko Widodo menyampaikan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa kemiskinan di pedesaan perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Untuk itu, pemerintah akan konsentrasi untuk mengatasi kemiskinan di pedesaan dengan menggunakan berbagai pendekatan-pendekatan. Mulai dari percepatan infrastruktur di pedesaan, optimalisasi Dana Desa untuk sektor-sektor produktif, maupun memperluas akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

 

Pembangunan yang berkeadilan?

Di Era Pemerintahan Joko Widodo lebih mencerminkan keadilan, sebagai contoh : dibangunnya Trans Papua. Menarik memang, mengingat selama ini kawasan Indonesia bagian Timur jarang tersentuh. Karena pembangunan lebih terpusat pada pulau Jawa. Dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan diharapkan ekonomi Papua dapat tumbuh dengan bangkitnya sumber daya produksi yang ada. Langkah Presiden secara nyata mampu menunjukkan trend yang positif yaitu dengan meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi dan menurunnya indeks gini ratio.

Titik terparah rasio gini terjadi pada periode 2011 sampai dengan 2014 yang mencapai 0,410-0,413 seiring ledakan komoditas. Pada September 2015, rasio gini sudah turun sedikit ke angka 0,40. Pada Maret 2016 rasio gini turun lagi hingga 0,397 dan sampai September 2016 sudah 0,394.

Artinya apa? Pemerintah tidak bekerja sendirian, secara nyata masyarakat Indonesia juga turut merespon hal ini, karena tidaklah mungkin indeks gini ratio menurun tanpa respon baik dari masyarakat Indonesia.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 menargetkan rasio gini menjadi 0,36 pada tahun 2019. Semoga rencana ini bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan targetnya. πŸ™‚

Β 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s